![]() |
| Akong |
Pengusaha perkebunan kelapa sawit di Bengkayang, Edison Akong yang akrab disapa Akong, mengaku kesulitan mendapatkan pupuk dan solar untuk menunjang kegiatan perkebunannya. Bahkan, ia terpaksa membeli solar dari pengecer dengan harga mencapai Rp18.000 per liter.
“Sangat sulit mendapatkan pupuk dan solar. Padahal kebun sawit ini kami tekuni untuk memanfaatkan lahan kosong agar produktif,” ujar Akong kepada Suara Kalbar, Rabu (21/10/2026).
Menurut Akong, kelapa sawit memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena dapat menjadi sumber penghasilan jangka panjang sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Ia menilai pengembangan perkebunan sawit dapat membantu meningkatkan produktivitas lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
“Sawit bisa menampung banyak tenaga kerja dan menjadi sumber penghasilan masyarakat. Lahan-lahan tidur bisa kita tanami sawit untuk menopang ekonomi,” katanya.
Meski demikian, Akong mengingatkan bahwa pengembangan perkebunan harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Pembukaan lahan, menurutnya, perlu mempertimbangkan kondisi kawasan dan keberadaan sumber air.
“Kita harus bisa memilah mana yang bisa ditanami sawit dan mana yang harus dilestarikan. Terutama sumber air, karena air adalah kunci kehidupan dan juga untuk perkebunan itu sendiri,” tegasnya.
Antrean Solar Hambat Pengangkutan Hasil Panen
Akong mengatakan, salah satu persoalan utama yang dihadapi pelaku perkebunan saat ini adalah sulitnya memperoleh solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Padahal, solar dibutuhkan untuk mendukung operasional kendaraan pengangkut TBS dari kebun menuju tempat pengumpulan maupun lokasi pengolahan.
Ia mengaku harus mengantre selama berjam-jam di SPBU, tetapi belum tentu mendapatkan BBM yang dibutuhkan.
“Sangat sulit mendapatkan solar. Antre berjam-jam di SPBU, bahkan setelah antre pun tidak dapat BBM-nya,” keluhnya.
Kondisi tersebut membuat petani dan pengusaha perkebunan mencari alternatif pasokan dari penjual eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga solar bersubsidi.
“Di pasaran kami sudah harus membeli dengan harga Rp18.000 per liter,” ungkap Akong.
Menurutnya, tingginya harga solar menambah beban biaya operasional perkebunan. Situasi tersebut juga menimbulkan persoalan bagi pelaku usaha yang membutuhkan BBM untuk kegiatan produktif, tetapi kesulitan memperoleh pasokan di SPBU.
Usulkan Evaluasi Kebijakan Subsidi Solar
Akong meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan subsidi solar, terutama terkait efektivitas distribusi dan keterjangkauan harga bagi masyarakat yang membutuhkan.
Ia menilai kebijakan subsidi perlu diimbangi dengan ketersediaan pasokan dan pengawasan distribusi agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh penerima yang berhak.
“Ini dilema. Di satu sisi subsidi Rp6.800, tapi di lapangan kami beli Rp18.000 dari pengecer. Lebih baik tidak usah disubsidi, tapi harganya distandarkan Rp10.000 sampai Rp12.000. Itu lebih adil, tidak membebani keuangan negara, dan kami tidak perlu antre tapi tidak dapat,” ujarnya.
Akong juga meminta pemerintah, Pertamina, dan pengelola SPBU memastikan ketersediaan serta kelancaran distribusi solar di Kabupaten Bengkayang.
“Pemerintah harus menjamin BBM tidak langka dan mengawasi penyalurannya supaya angkutan lancar dan penghasilan perkebunan bisa meningkat,” katanya.
Manfaatkan Pupuk Organik untuk Menekan Biaya
Selain kelangkaan solar, sulitnya memperoleh pupuk kimia juga menjadi tantangan bagi petani dan pengusaha perkebunan sawit.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menekan biaya produksi, Akong mengaku memanfaatkan pupuk kandang dan limbah sawit sebagai bahan campuran pemupukan.
Menurutnya, penggunaan bahan organik dapat menjadi salah satu alternatif yang patut dikembangkan ketika pasokan pupuk kimia terbatas.
“Pemerintah jangan hanya mengandalkan pupuk kimia. Bisa juga memanfaatkan limbah kandang dicampur limbah sawit untuk mengurangi pengeluaran petani,” sarannya.
Akong mengatakan telah menerapkan pencampuran pupuk kimia, pupuk kandang, dan limbah sawit di kebunnya. Berdasarkan pengalamannya, metode tersebut memberikan hasil yang cukup baik.
“Saya mencampur pupuk kimia, pupuk kandang, dan limbah sawit. Hasilnya cukup baik untuk kebun saya,” pungkasnya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap persoalan kelangkaan pupuk dan solar di Kabupaten Bengkayang. Menurutnya, ketersediaan sarana produksi pertanian dan kelancaran distribusi BBM menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas perkebunan, menekan biaya operasional, serta mendukung perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor kelapa sawit. [SK]
.jpeg)