Streaming Radio Lawang Kuari

Pangdam XII/Tpr: 6.000 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla di Kalbar

Editor: Admin author photo

 

Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito saat memberikan keterangan resmi di Mako Satrol Kodaeral XII Pontianak, Senin (14/9/2026). SUARALAWANGKUARI/SK
Pontianak (Suara Lawang Kuari) — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat terus dilakukan secara terpadu. Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito menyebut upaya pemadaman yang melibatkan berbagai unsur mulai menunjukkan perkembangan positif dengan adanya tren penurunan titik panas atau hotspot.

Hal itu disampaikan Novi Rubadi Sugito saat memberikan keterangan resmi di Mako Satrol Kodaeral XII Pontianak, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, Kodam XII/Tpr menjadi bagian aktif dalam Satgas Tanggap Darurat Karhutla yang dipimpin Gubernur Kalimantan Barat. Sekitar 6.000 personel telah dikerahkan untuk memperkuat penanganan karhutla, terutama melalui operasi pemadaman dari darat.

“Kami sudah mengerahkan sekitar 6.000 personel, baik organik maupun BKO (Bawah Komando Operasi) dari luar Kodam XII/Tpr. Seluruh personel telah disebar ke berbagai kabupaten di Kalimantan Barat untuk melakukan pemadaman darat,” ujar Pangdam.

Ia menjelaskan, kondisi di lapangan masih menjadi tantangan bagi petugas. Luasnya lahan gambut, suhu udara yang panas, serta tiupan angin dapat mempercepat penyebaran api sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.

Meski demikian, upaya yang dilakukan secara konsisten mulai menunjukkan hasil. Selain operasi pemadaman dari darat, penanganan karhutla juga diperkuat melalui dukungan operasi udara berupa water bombing menggunakan helikopter.

“Tren penurunan titik api mulai terlihat. Namun, penanganan tetap harus dilakukan secara konsisten karena kondisi lahan dan cuaca masih menjadi tantangan,” katanya.

Selain pemadaman, Kodam XII/Tpr mengerahkan personel untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan pihak perusahaan. Sosialisasi tersebut diarahkan untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar yang berpotensi menimbulkan dan memperluas kebakaran.

Penanganan karhutla di Kalbar dilakukan melalui sinergi lintas instansi. TNI bekerja sama dengan Polri, Satgas Udara Lanud, Kodaeral XII, BPBD, BMKG, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).

Dalam kesempatan tersebut, Pangdam juga mengonfirmasi dukungan dari Jepang dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Kapal milik Japan Self-Defense Forces (JSDF) jenis Landing Ship Tank (LST) saat ini bersandar di Pelabuhan Kijing.

Kapal tersebut membawa helikopter yang dipersiapkan untuk mendukung operasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

“Kodaeral XII memfasilitasi akses sandar untuk kapal dari negara sahabat tersebut di Pelabuhan Kijing. Saat ini peralatan helikopter penunjang sedang dalam proses perakitan (assembling) dan pengecekan kesiapan sebelum diuji coba,” jelas Novi.

Namun, dukungan operasi udara tersebut juga menghadapi kendala akibat jarak pandang yang pendek karena kabut asap. Faktor keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama sehingga uji rute dan penerbangan latihan sempat ditangguhkan.

Novi menegaskan, keberhasilan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah dan aparat tidak dapat bekerja sendiri karena masyarakat serta pelaku usaha juga memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api baru.

Ia berharap sinergi lintas sektor, dukungan masyarakat, serta optimalisasi operasi darat dan udara dapat mempercepat penanganan karhutla di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

“Dengan sinergi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, aparat penegak hukum, serta dukungan fasilitas udara, kita berharap bencana karhutla di Kalimantan Barat dapat segera teratasi secara maksimal,” pungkasnya. [SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play