![]() |
| Kegiatan FGD di Pontianak Menghasilkan Komitmen Bersama untuk Lindungi Generasi Muda dari Bahaya LGBT. SUARALAWANGUARI/SK |
Forum diskusi tersebut menjadi ruang dialog bersama yang menghadirkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari mahasiswa lintas perguruan tinggi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Karang Taruna Kota Pontianak, GMKI, HMI, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, hingga perwakilan lembaga terkait. Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan yang membahas pentingnya peran keluarga dan lingkungan pendidikan dalam pembinaan generasi muda.
FGD tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, seperti tokoh masyarakat, pendidik, psikiater, serta perwakilan Kementerian Agama Kota Pontianak. Kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penguatan ketahanan keluarga dan pembinaan remaja.
Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan adanya kepedulian bersama terhadap masa depan generasi muda.
“Kita bersyukur FGD kali ini lebih ramai dengan jumlah sekitar 100 orang. Tentunya kita berharap ada dorongan dari semua pihak, terutama bagaimana memaksimalkan implementasi Perda Ketahanan Keluarga yang sebelumnya sudah ada,” ujarnya.
Bebby menilai, keluarga memiliki peran paling utama dalam membangun karakter anak. Menurutnya, orang tua tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga menjadi pendidik pertama yang memberikan nilai, arahan, dan pembentukan karakter sejak dini.
Selain keluarga, lingkungan sekolah juga dinilai memiliki peran strategis. Guru diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi pengajaran akademik, tetapi turut menjadi pendamping dalam membentuk kepribadian dan perilaku positif peserta didik.
“Kita berharap orang tua dan guru tidak hanya sebagai pengajar yang menjalankan kurikulum, tetapi juga sebagai pendidik. Karena itu peran orang tua, guru, dan kepedulian masyarakat harus diperkuat,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai masukan yang muncul dalam forum tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan bagi pemerintah daerah serta DPRD dalam memperkuat kebijakan terkait ketahanan keluarga dan pembinaan generasi muda.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pontianak, Husin, mengatakan aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam FGD akan menjadi salah satu referensi dalam menyusun kebijakan ke depan. Ia menyebut pihaknya membuka peluang mendorong rancangan peraturan daerah (Raperda) inisiatif DPRD yang berkaitan dengan isu tersebut.
“Alhamdulillah, tanggapan masyarakat cukup baik. Kami ingin mendorong adanya perda inisiatif DPRD. Prosesnya tentu harus melalui mekanisme yang berlaku, mulai dari persetujuan anggota DPRD, kajian akademik, hingga sosialisasi kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurut Husin, apabila pembahasan regulasi dilanjutkan, DPRD akan melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan para ahli agar kebijakan yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Ia juga menegaskan bahwa upaya pembinaan terhadap remaja harus dilakukan dengan pendekatan edukasi dan pendampingan, bukan melalui tindakan diskriminatif maupun penghakiman terhadap individu.
“Kita tidak hanya mendorong lahirnya perda, tetapi juga mendorong perubahan perilaku melalui edukasi. Jangan sampai orang yang memiliki perilaku tersebut justru dihakimi atau dijauhkan dari masyarakat. Yang kita harapkan adalah adanya pembinaan dan edukasi sehingga mereka bisa mendapatkan pendampingan yang tepat,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, DPRD Kota Pontianak berharap sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat semakin kuat dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, serta mendukung tumbuh kembang remaja menjadi generasi yang berkarakter dan berkualitas.[SK]
