Streaming Radio Lawang Kuari

Budidaya Tanpa Bakar Jadi Solusi Pertanian Gambut, Peneliti Dorong Teknologi Ramah Lingkungan

Editor: Admin author photo

 

Muhaimin, SP, (kiri), peneliti dan praktisi pertanian di lahan gambut asal Antibar, Mempawah. SUARALAWANGKUARI/SK
Pontianak (Suara Lawang Kuari) – Perdebatan mengenai metode pembukaan lahan pertanian kembali mengemuka di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta perubahan iklim yang semakin terasa, khususnya saat musim kemarau.

Di tengah kondisi tersebut, metode budidaya tanpa bakar mulai semakin banyak didorong oleh kalangan peneliti dan akademisi pertanian sebagai alternatif pembukaan lahan yang lebih aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Muhaimin, SP., peneliti sekaligus praktisi pertanian lahan gambut asal Antibar, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, turut mendorong petani beralih dari metode pembukaan lahan dengan cara membakar ke teknologi pertanian yang tidak merusak ekosistem.

Muhaimin yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Tribuana Malang sekaligus kader terampil petani gambut Badan Restorasi Gambut, membagikan pengalamannya mengenai perbedaan metode konvensional dengan pembukaan lahan tanpa bakar.

Menurutnya, pembukaan lahan dengan cara membakar memang memberikan efek instan. Abu hasil pembakaran dapat membuat pH tanah meningkat dalam waktu relatif cepat.

Namun, manfaat tersebut dinilai tidak sebanding dengan dampak jangka panjang yang ditimbulkan.

Pembakaran dapat merusak struktur tanah, menghilangkan mikroorganisme yang bermanfaat, meningkatkan risiko erosi, sekaligus membuka peluang terjadinya karhutla yang pada akhirnya dapat merugikan petani sendiri.

“Di tempat kami, komoditas seperti jahe yang kami tanam kerap terbakar sia-sia sebelum sempat dipanen akibat rambatan api karhutla. Ini kerugian yang luar biasa bagi petani,” ujar Muhaimin.

Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa metode pembukaan lahan harus mempertimbangkan keberlanjutan usaha pertanian. Petani tidak hanya membutuhkan hasil cepat, tetapi juga kondisi tanah yang tetap produktif dalam jangka panjang.

Sebagai salah satu alternatif, Muhaimin bersama sejumlah petani kini memanfaatkan F1 Embio sebagai pembenah struktur tanah sekaligus membantu menetralkan tingkat keasaman tanah, terutama pada lahan gambut.

Ia menilai teknologi fermentasi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi petani karena bahan pembuatannya relatif mudah ditemukan dan dapat memanfaatkan limbah pertanian yang tersedia di sekitar lingkungan.

“Pertanian tradisional leluhur sangat baik untuk dilestarikan dengan mengedepankan efisiensi dan peningkatan ekonomi jangka panjang. Era modern kini sudah menyediakan teknologi murah untuk dipraktikkan, seperti sistem fermentasi F1 Embio yang terbukti efektif menaikkan produktivitas lahan gambut tanpa harus merusak lingkungan,” jelasnya.

Muhaimin menjelaskan, F1 Embio disebut tidak hanya digunakan untuk membantu memperbaiki struktur tanah dalam jangka panjang, tetapi juga menjadi sumber mikroorganisme yang diharapkan dapat membantu menekan perkembangan mikroorganisme yang merugikan tanaman.

Dalam praktiknya, pembuatan F1 Embio dapat memanfaatkan sejumlah bahan yang mudah diperoleh masyarakat, seperti bonggol pisang, dedak, gula, EM4 dan micin atau penyedap rasa.

Bahan-bahan tersebut kemudian dicampurkan dan difermentasi dalam kondisi kedap udara atau anaerob.

Menurut Muhaimin, teknologi sederhana berbasis fermentasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif yang dikembangkan kelompok tani dalam mengurangi ketergantungan terhadap metode pembukaan lahan dengan cara membakar.

Panduan pembuatannya juga telah banyak dibagikan melalui berbagai sumber dan dapat dipelajari oleh masyarakat yang ingin mengembangkan metode budidaya tanpa bakar.

Muhaimin optimistis penerapan teknologi pertanian mandiri dan metode budidaya tanpa bakar dapat mendorong sektor pertanian Kalimantan Barat berkembang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, perubahan metode pertanian tidak harus menghilangkan kearifan lokal. Sebaliknya, pengalaman petani dan teknologi modern dapat dipadukan untuk menghasilkan sistem budidaya yang lebih efisien sekaligus menjaga lingkungan.

Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Ria Norsan, dapat memperkuat pembinaan kepada petani serta membuka ruang lebih luas bagi keterlibatan petani dalam riset dan eksperimen pertanian.

Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas korporasi berbasis lahan juga dinilai perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan lingkungan dan melindungi keberlanjutan kawasan gambut.

“Petani jangan hanya menjadi objek kebijakan. Mereka harus dilibatkan dalam riset, pengujian dan pengembangan teknologi pertanian karena petani yang paling memahami kondisi lahannya,” ujarnya.

Penerapan budidaya tanpa bakar dinilai dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mempertemukan kepentingan produksi pertanian dengan upaya pencegahan karhutla.

Dengan dukungan teknologi sederhana, pendampingan pemerintah, serta keterlibatan aktif petani, pembukaan lahan pertanian di Kalimantan Barat diharapkan dapat dilakukan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play