Streaming Radio Lawang Kuari

Karhutla di Semanai Kian Mengkhawatirkan, Dua Rumah Kembali Ludes Terbakar, Total Lima Unit Hangus

Editor: Admin author photo

Tampak rumah tinggal puing di TR 4 Transmigrasi Semanai setelah dilahap sijago merah yang begitu cepat, Kamis (23/07/2026). SUARALAWANGKUARI/SK
Kayong Utara (Suara Lawang Kuari) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah berlangsung hampir dua pekan di kawasan permukiman transmigrasi Semanai, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, semakin mengkhawatirkan. Kobaran api yang terus meluas kembali menghanguskan dua unit rumah warga pada Kamis (23/7/2026), sehingga total rumah yang musnah akibat kebakaran kini mencapai lima unit.

Dua rumah yang terbaru dilaporkan terbakar masing-masing milik Burhanuddin atau yang akrab disapa Bang Han dan Dedi, warga yang tinggal di kawasan TR 4 permukiman transmigrasi tersebut.

Anggota DPRD Kabupaten Kayong Utara, Kamiriluddin, membenarkan peristiwa tersebut dan menyatakan kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan karena api belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.

“Ya, hari ini kembali ada dua rumah yang terbakar, yakni milik Bang Han dan Pak Dedi. Dengan demikian, total sudah lima rumah yang hangus sejak kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan transmigrasi ini sekitar dua pekan terakhir,” ujarnya.

Menurut Kamiriluddin, petugas gabungan hingga kini masih berjibaku melakukan pemadaman di sejumlah titik api yang tersebar di sekitar kawasan permukiman. Namun upaya tersebut menghadapi tantangan besar akibat minimnya sumber air yang tersedia di lokasi terdampak.

Kondisi cuaca yang kering dan luasnya area yang terbakar membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan hanya melalui jalur darat. Karena itu, dukungan pemadaman dari udara menjadi salah satu faktor penting dalam menahan laju penyebaran api.

Setiap hari, helikopter dikerahkan untuk melakukan operasi water bombing atau pengeboman air di sejumlah titik yang dianggap rawan dan berpotensi mengancam permukiman warga.

Kamiriluddin menilai langkah tersebut sangat membantu dalam menekan risiko kebakaran yang lebih besar.

“Water bombing cukup membantu mengurangi jumlah rumah yang terancam dilahap si jago merah. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada helikopter yang melakukan water bombing, rumah yang terbakar bisa lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kawasan transmigrasi Semanai mulai dihuni masyarakat sejak tahun 2016. Sebagian besar rumah warga berdiri di tengah hamparan lahan yang kini terdampak kebakaran, sehingga tingkat kerawanannya sangat tinggi ketika musim kemarau tiba.

Selain ancaman api, masyarakat kini juga harus menghadapi dampak lain yang tidak kalah serius. Asap tebal yang terus menyelimuti kawasan permukiman mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan memicu keluhan kesehatan, terutama gangguan saluran pernapasan.

Tidak hanya itu, keterbatasan akses terhadap air bersih juga menjadi persoalan mendesak yang dirasakan warga di tengah situasi darurat tersebut.

“Warga mulai mengeluhkan udara yang semakin pekat sehingga mengganggu pernapasan. Di sisi lain, mereka juga kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini membuat penderitaan masyarakat semakin berat,” kata Kamiriluddin.

Situasi yang terus memburuk membuat masyarakat berharap adanya penanganan yang lebih intensif agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak kembali merembet ke permukiman lainnya.

Warga juga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mempercepat penyaluran bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak, mulai dari pasokan air bersih, layanan kesehatan, masker, hingga bantuan logistik untuk meringankan beban mereka selama menghadapi bencana.

Dengan api yang masih aktif di sejumlah titik dan ancaman kebakaran yang belum sepenuhnya berakhir, kawasan transmigrasi Semanai kini menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan perhatian serius agar tidak terjadi kerugian yang lebih besar, baik terhadap keselamatan warga maupun lingkungan sekitar.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play