Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berfoto bersama para peserta Rakercab 2 IWAPI Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Jumat (17/7/2026). SUARALAWANGKUARI/SK.jpeg)
Menurut Edi, keberadaan UMKM yang dikelola perempuan menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga perputaran ekonomi daerah, mulai dari pasar tradisional, sentra usaha, kawasan kuliner, hingga usaha rumahan.
“Pelaku UMKM di Kota Pontianak itu 72 persen lebih adalah perempuan. Ini menunjukkan peran perempuan dalam perekonomian Kota Pontianak sangat signifikan,” ujar Edi saat membuka RAKERCAB 2 IWAPI Kota Pontianak, Talkshow, dan Gelar Produk UMKM Tahun 2026 di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Jumat (17/7/2026).
Edi mengatakan, perempuan memiliki kontribusi besar dalam dunia usaha karena banyak yang terlibat langsung dalam berbagai tahapan bisnis, mulai dari produksi, pengelolaan, hingga pemasaran produk.
Ia menilai perempuan pelaku usaha memiliki karakter yang menjadi modal kuat dalam membangun bisnis, seperti ketelitian, ketekunan, kedisiplinan, serta kemampuan menjaga keberlangsungan usaha.
Hal tersebut, menurutnya, juga terlihat saat masa pandemi Covid-19. Ketika banyak sektor ekonomi mengalami tekanan, pelaku usaha perempuan tetap mampu bertahan dan menunjukkan komitmen tinggi dalam menjalankan usaha.
“Waktu Covid-19, ada sekitar 19 ribu lebih ibu-ibu di Pontianak yang mendapat pinjaman mulai dari Rp2 juta sampai Rp10 juta, dan 95 persen lebih kembali. Artinya ibu-ibu ini dalam berbisnis benar-benar fokus,” katanya.
Melihat besarnya kontribusi perempuan dalam sektor UMKM, Edi mendorong organisasi seperti Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kota Pontianak untuk mengambil peran lebih besar dalam meningkatkan kualitas dan daya saing pelaku usaha perempuan.
Menurutnya, organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi harus mampu menjadi wadah yang membuka akses, memperluas jaringan, serta membantu anggotanya mengembangkan usaha agar naik kelas.
“Organisasi harus bisa membuka komunikasi, membangun jaringan, serta membantu pelaku UMKM mendapatkan akses yang lebih luas,” ujarnya.
Edi menilai salah satu tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha kecil adalah keterbatasan informasi mengenai akses pembiayaan. Akibatnya, sebagian pelaku usaha masih menggunakan pinjaman informal dengan bunga tinggi.
“Kadang-kadang pelaku usaha tidak tahu harus meminjam ke mana. Ada yang ditawari pinjaman, tetapi bunganya luar biasa. Padahal fasilitas KUR ada di perbankan, bahkan ada BUMN yang memberikan permodalan tanpa bunga,” jelasnya.
Ia berharap organisasi perempuan pengusaha dapat menjadi penghubung antara pelaku UMKM dengan berbagai lembaga pembiayaan, seperti perbankan, Bank Indonesia, Bank Kalbar, Pegadaian, Permodalan Nasional Madani (PNM), PLN, Pertamina, serta berbagai mitra lainnya.
“Kekuatan organisasi itu ada di situ. Organisasi bisa menembus batas, membuka komunikasi, audiensi, meminta saran, lalu ditindaklanjuti dengan kerja sama,” katanya.
Selain memperkuat jaringan, Edi juga menekankan pentingnya pengelolaan data anggota organisasi secara lengkap dan akurat.
Menurutnya, data mengenai pelaku usaha sangat dibutuhkan untuk memudahkan lembaga pembiayaan maupun mitra usaha dalam memberikan dukungan yang tepat.
“Harus berbasis data. Misalnya usaha kuliner, siapa pelakunya, di mana alamatnya, jenis usahanya apa. Data seperti ini bisa meyakinkan perbankan dan lembaga pembiayaan,” ungkapnya.
Dengan dukungan organisasi, akses permodalan, pendampingan, dan penguatan jaringan usaha, Edi berharap semakin banyak UMKM perempuan di Kota Pontianak mampu berkembang, meningkatkan kapasitas produksi, serta berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah Kota Pontianak pun berkomitmen terus mendorong pemberdayaan perempuan sebagai salah satu kekuatan utama dalam membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.[SK]