![]() |
| Ketua Panitia FFPK 2026, Gebrina Diva saat diwawancara awak media.SUARALAWANGKUARI/SK |
Pada penyelenggaraan tahun ini, FFPK mengangkat dua isu utama, yakni kreativitas dan integritas di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Panitia FFPK 2026, Gebrina Divva, mengatakan antusiasme calon peserta mulai menunjukkan peningkatan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Ketertarikan tersebut tidak hanya datang dari sekolah-sekolah di Kalimantan Barat, tetapi juga dari sejumlah daerah di luar provinsi.
Bahkan, beberapa sekolah berencana mengirimkan lebih dari satu tim untuk mengikuti kompetisi tersebut.
“Tahun ini kami melihat ada peningkatan antusiasme. Sekolah dari luar Kalbar pun banyak yang bertanya dan berencana mengirim dua film atau lebih. Kami memang ingin FFPK naik tingkat, sekaligus menjadi wadah saling belajar dan naik kelas bersama antara peserta lokal dan luar daerah,” tutur Gebrina di Pontianak, Minggu (1/11/2026).
Seiring dengan perluasan jangkauan peserta, panitia juga meningkatkan apresiasi bagi para sineas muda. Total uang pembinaan yang disiapkan pada FFPK 2026 meningkat menjadi lebih dari Rp50 juta, dibandingkan sekitar Rp30 juta pada penyelenggaraan sebelumnya.
Peningkatan apresiasi tersebut diharapkan dapat mendorong pelajar dan mahasiswa menghasilkan karya film yang kreatif, berkualitas, serta memiliki pesan yang kuat.
Angkat Isu Kreativitas dan Integritas di Era AI
Salah satu tema utama FFPK 2026 menyoroti hubungan antara kreativitas, integritas, dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Panitia menilai pesatnya perkembangan AI telah membawa perubahan dalam berbagai aktivitas manusia, termasuk proses produksi karya kreatif. Di satu sisi, teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu untuk mengembangkan ide dan mempermudah proses produksi. Namun, penggunaan AI secara instan tanpa melibatkan kreativitas dan pemikiran manusia juga menjadi perhatian.
Melalui tema ini, peserta diajak mengeksplorasi bagaimana generasi muda menyikapi perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan kreativitas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam berkarya.
FFPK ingin mendorong lahirnya karya film yang tidak hanya memanfaatkan kemajuan teknologi, tetapi juga tetap mengedepankan orisinalitas dan integritas pembuatnya.
Karhutla Jadi Ruang Aspirasi Generasi Muda
Selain perkembangan AI, FFPK 2026 turut mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan sebagai tema kompetisi. Persoalan tersebut dipilih karena masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan dan Sumatra.
Gebrina mengatakan, pengangkatan isu karhutla diharapkan menjadi ruang bagi pelajar dan mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, kepedulian, serta keresahan mereka melalui karya audiovisual.
“Melalui isu Karhutla ini, kami ingin generasi muda pelajar maupun mahasiswa bisa mengutarakan suara dan keresahan mereka lewat media film. Harapannya, karya visual ini bisa menjadi sarana edukasi sekaligus jalan menyampaikan aspirasi atas kekhawatiran yang dialami bersama,” tegasnya.
Menurutnya, film tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sarana edukasi dan penyampaian pesan sosial. Karena itu, peserta didorong untuk menghasilkan karya yang tidak hanya kuat dari sisi teknis dan estetika, tetapi juga relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pendaftaran Ditutup 9 November 2026
Panitia menetapkan batas akhir pengumpulan karya FFPK 2026 pada 9 November 2026. Sementara itu, malam penganugerahan atau Awarding Night dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.
Gebrina mengajak pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai ruang berekspresi, mengembangkan kemampuan sinematografi, serta menyampaikan gagasan melalui karya visual.
“Festival Film Pelajar Khatulistiwa ini adalah wadah berekspresi yang selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ayo berkreativitas, tunjukkan bakat terbaik kalian, dan suarakan ide-ide hebatmu di FFPK ke-7 tahun 2026!,” pungkas Gebrina.
Melalui penyelenggaraan tahun ketujuh ini, FFPK diharapkan semakin memperluas ruang bagi sineas muda Indonesia untuk berkembang, membangun jejaring, serta menghadirkan karya film yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap perkembangan teknologi dan persoalan sosial maupun lingkungan. [SK]
