Streaming Radio Lawang Kuari

Empat Warga Ketapang Tewas di Lubang Bekas PETI Saat Ambil Air di Tengah Kemarau

Editor: Admin author photo

 

Lokasi korban ditemukan. SUARALAWANGKUARI/SK
Ketapang (Suara Lawang Kuari) – Empat warga Dusun Bayangan, Desa Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, ditemukan meninggal dunia di dalam lubang bekas aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Rawangan Kecil, Desa Persiapan Bayangan, Senin (31/8/2026).

Keempat korban masing-masing berinisial SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21). Tragisnya, mereka datang ke lokasi tersebut bukan untuk menambang emas, melainkan mengambil air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi kemarau yang membuat sumber air semakin sulit diperoleh.

Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris melalui Kapolsek Nanga Tayap IPTU Martin Nababan mengatakan, keempat korban mendatangi lubang bekas PETI karena membutuhkan air.

“Mereka datang ke lokasi bukan untuk menambang emas. Keempatnya hendak mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari karena sumber air semakin sulit diperoleh akibat kemarau,” kata Martin dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Peristiwa nahas tersebut bermula ketika keempat korban bersama seorang saksi bernama PARIDA mendatangi lubang bekas PETI untuk mengambil air.

Karena selang yang digunakan tidak mencapai sumber air, salah seorang korban kemudian turun ke dalam lubang untuk menurunkan mesin pompa. Namun, sesaat setelah berada di dalam lubang, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri.

Kondisi tersebut diduga terjadi akibat kekurangan oksigen di dalam lubang bekas tambang.

Melihat rekannya tidak sadarkan diri, korban lainnya berusaha memberikan pertolongan. Namun, upaya tersebut justru berujung petaka. Satu per satu korban yang turun ke dalam lubang mengalami kondisi serupa.

Saksi yang berada di atas kemudian meminta bantuan warga sekitar. Masyarakat pun segera mendatangi lokasi untuk melakukan proses evakuasi terhadap para korban.

“Saksi yang berada di atas kemudian meminta bantuan warga. Masyarakat sekitar langsung melakukan evakuasi. Sekitar pukul 16.00 WIB, seluruh korban berhasil dievakuasi,” ujar Martin.

Salah seorang korban sempat dibawa menuju fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan dan korban meninggal dunia dalam perjalanan.

Sementara tiga korban lainnya dinyatakan meninggal dunia setelah berhasil dievakuasi dari dalam lubang.

Martin menegaskan, lokasi tersebut merupakan lubang bekas aktivitas PETI yang sudah lama tidak beroperasi. Keempat korban juga dipastikan tidak sedang melakukan aktivitas penambangan ketika peristiwa terjadi.

Menurut kepolisian, kondisi lubang bekas pertambangan tetap menyimpan risiko meskipun aktivitas penambangan telah lama berhenti. Salah satunya adalah kondisi udara di dalam lubang yang dapat berbahaya bagi manusia.

Karena itu, Polsek Nanga Tayap mengingatkan masyarakat agar tidak memasuki lubang bekas tambang dengan alasan apa pun, terlebih tanpa mengetahui kondisi udara dan tingkat keamanan di dalamnya.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki lubang bekas pertambangan karena sangat berbahaya,” tegas Martin.

Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan mengenai bahaya tersembunyi lubang-lubang bekas PETI, terutama di tengah kondisi kemarau ketika sebagian masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan sumber air bersih.

Pasca kejadian, Polsek Nanga Tayap telah meminta keterangan saksi dan melakukan pendataan terhadap para korban. Pihak keluarga juga menyatakan menolak pelaksanaan visum et repertum maupun autopsi serta menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan takdir.

Kepolisian mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan keselamatan dan tidak mengambil risiko dengan memasuki lubang bekas tambang, termasuk untuk mencari sumber air. Kondisi udara di dalam lubang yang tidak diketahui dapat menimbulkan ancaman serius dan berakibat fatal dalam waktu singkat. [SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play