Streaming Radio Lawang Kuari

Titik Panas Karhutla Kalbar Turun Jadi 28, Norsan Dan Raja Juli Ingatkan Warga Jangan Lengah

Editor: Admin author photo

 

Gubernur Kalbar, Ria Norsan mendampingi Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026). SUARALAWANGKUARI/SK
Kubu Raya (Suara Lawang Kuari) – Sinergi pemerintah pusat dan daerah bersama seluruh unsur terkait terus diperkuat untuk menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mendampingi Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan optimal sekaligus melihat efektivitas operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara di tengah kondisi musim kemarau.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kehutanan memaparkan perkembangan titik panas berdasarkan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi). Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran sebaran titik panas dari wilayah Kalimantan menuju Sumatera.

Di Sumatera, tercatat 127 titik panas berada di Sumatera Selatan, 54 titik di Riau, dan 40 titik di Jambi. Sementara itu, jumlah titik panas di Kalimantan Barat turun menjadi 28 titik, dengan rincian 16 titik di Ketapang, 11 titik di Melawi, dan satu titik di Kubu Raya.

Raja Juli mengapresiasi kerja keras seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Menurutnya, penurunan titik panas tersebut tidak terlepas dari sinergi TNI, Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, BMKG, Masyarakat Peduli Api, serta berbagai unsur lainnya.

Upaya pengendalian karhutla juga diperkuat melalui operasi udara. Pemadaman dari udara telah dilakukan sekitar 200 kali untuk membantu mengendalikan kebakaran di sejumlah wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Meski jumlah titik panas telah mengalami penurunan signifikan, Raja Juli mengingatkan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir. Asap masih muncul di sejumlah lokasi akibat pembakaran yang tidak sempurna, terutama pada kawasan lahan gambut.

“Meskipun api mulai padam, asap masih menyelimuti wilayah karena pembakaran tidak sempurna di lahan gambut,” ujarnya.

Menurut Raja Juli, kondisi gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga meski kobaran api terlihat sudah padam, asap dan bara masih berpotensi muncul kembali.

Menghadapi kondisi cuaca yang semakin kering, Menteri Kehutanan meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada September.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca kering.

“Masyarakat sangat diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca kering ini. Pemerintah pusat maupun daerah menghargai kearifan lokal, namun di kondisi yang sangat kering ini, percikan api sekecil apa pun sangat berbahaya,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Forkopimda, serta seluruh tim gabungan yang terus bekerja menangani karhutla di wilayah Kalbar.

Menurut Norsan, kolaborasi lintas sektor telah menunjukkan hasil positif dengan menekan jumlah titik panas secara signifikan.

“Sinergi TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat, dan Brigade KPH berhasil menekan titik api di Kalbar dari sebelumnya lebih dari 2.000 titik menjadi 28 titik,” kata Ria Norsan.

Namun, Norsan menegaskan penurunan titik panas tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah. Kondisi cuaca yang semakin kering masih berpotensi memicu kembali terjadinya karhutla.

“Kami mengingatkan agar tidak lengah karena puncak El Nino diprediksi BMKG terjadi pada September,” ujarnya.

Ria Norsan menegaskan bahwa penanganan karhutla bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk memperkuat pencegahan dan mengantisipasi kebakaran agar tidak berkembang menjadi bencana asap.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, lanjutnya, akan terus memperkuat koordinasi dengan Satgas Karhutla dan seluruh pemangku kepentingan. Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko kebakaran, menjaga kualitas lingkungan, serta melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.

Gubernur juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama selama musim kemarau masih berlangsung.

“Yang paling penting sekarang adalah kewaspadaan. Jangan sampai titik api yang sudah berhasil kita tekan kembali meningkat karena kelalaian,” pungkasnya.

Penurunan titik panas menjadi sinyal positif dalam upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Barat. Namun, kondisi lahan yang kering dan ancaman cuaca ekstrem membuat kewaspadaan tetap harus dijaga. Kolaborasi pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar 28 titik panas yang tersisa tidak kembali berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play