| Pangdam XII/Tpr Alihkan Fokus Pemadaman Karhutla ke Sektor Selatan Kalbar. SUARALAWANGKUARI/SK |
Peninjauan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan penanganan karhutla sekaligus memastikan sinergi personel gabungan di lapangan berjalan optimal.
Agenda diawali dengan kunjungan ke wilayah Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Setelah berkoordinasi dan melaksanakan istirahat, salat dan makan (Isoma) di Pendopo Bupati Kayong Utara, Pangdam melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Ketapang.
Di Ketapang, Novi meninjau dua lokasi yang dinilai masih rawan terjadi karhutla, yakni wilayah Kecamatan Muara Pawan dan kawasan Sungai Besar, Pelang.
Novi mengatakan, penanganan karhutla di Kalimantan Barat terus menjadi perhatian serius, terlebih setelah pemerintah menetapkan penanganan bencana asap akibat karhutla sebagai salah satu isu yang mendapat perhatian di tingkat nasional.
“Sejak dilaksanakannya status tanggap darurat, TNI telah menambah kekuatan, bahkan Kodam XII/Tpr mendapatkan perkuatan satuan BKO dari luar wilayah. Hasil evaluasi menunjukkan tren penanganan saat ini terus membaik,” ujar Novi.
Menurutnya, hasil pemantauan menunjukkan jumlah hotspot atau titik panas dan fire spot atau titik api mengalami penurunan secara signifikan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat bagian utara.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, khususnya Putussibau, serta Kabupaten Landak.
Namun, kondisi berbeda masih ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat bagian selatan. Berdasarkan data BMKG, sektor selatan masih menghadapi kondisi cuaca yang relatif lebih kering sehingga tingkat kerawanan terhadap karhutla masih perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Kodam XII/Tpr untuk melakukan penyesuaian penempatan pasukan. Personel dari wilayah yang kondisi karhutlanya mulai membaik akan digeser untuk memperkuat penanganan di sektor selatan.
“Sektor utara yang kondisinya sudah membaik kita geser pasukannya ke wilayah selatan. Harapannya, setiap kecamatan, Koramil, hingga desa ada unsur TNI bersama Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD, dan Polri yang bahu-membahu melakukan pemadaman,” tegasnya.
Selain pemadaman, upaya pencegahan dan penegakan hukum juga terus dilakukan. Langkah tersebut menyasar oknum maupun korporasi yang masih melakukan pengolahan lahan secara ilegal dengan cara membakar.
TNI juga menurunkan tim penyuluh hukum ke sejumlah pemukiman warga. Tim tersebut memberikan edukasi mengenai pengelolaan lahan yang aman serta tidak menimbulkan risiko kebakaran.
Pangdam menjelaskan, perubahan jumlah titik api dari hari ke hari merupakan kondisi yang dinamis. Perubahan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk suhu udara serta arah dan kecepatan angin.
“Secara siklus harian, titik api paling minim terpantau pada pagi hari, lalu sedikit meningkat pada siang hari karena faktor panas dan angin, dan kembali menurun menjelang sore. Namun secara akumulatif, jumlah titiknya terus berkurang,” jelasnya.
Ia menegaskan, meskipun pemantauan melalui aplikasi SiPongi menunjukkan adanya penurunan hotspot, upaya pencegahan dan pemadaman tetap dilakukan secara intensif, terutama di wilayah yang masih menghadapi kondisi cuaca kering.
Pengalihan kekuatan pasukan dari sektor utara ke wilayah selatan diharapkan dapat memperkuat respons terhadap titik api sekaligus meningkatkan pengawasan di kawasan yang masih rawan.
Penanganan karhutla tersebut akan terus dilakukan secara bersama dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, MPA, pemerintah daerah serta masyarakat. [SK]