![]() |
| Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Boby Oktavianus. SUARALAWANGKUARI/SK |
Festival yang diprakarsai Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) tersebut dijadwalkan berlangsung pada 4–7 November 2026.
Keputusan penundaan diambil setelah mempertimbangkan kondisi cuaca dan kualitas udara akibat kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Faktor mobilitas peserta dan tamu undangan dari luar daerah hingga mancanegara juga menjadi pertimbangan penting.
Kepastian perubahan jadwal tersebut disampaikan Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Boby Oktavianus, saat menghadiri Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Pameran Pembangunan, Ekonomi Kreatif, Kelam Tourism Festival dan Panggung Hiburan Rakyat Tahun 2026, Kamis (27/8/2026), di Ruang Rapat Asisten Setda Sintang.
Boby menjelaskan, keputusan mengundur festival telah melalui berbagai pertimbangan. Ketua Umum LTKL periode 2025–2028, Mohamad Rizal Intjenae yang juga Bupati Sigi, Sulawesi Tengah, akhirnya mengambil keputusan tersebut meskipun sejumlah pihak sebelumnya telah melakukan berbagai persiapan.
“Mohamad Rizal Intjenae selaku Ketua Umum LTKL periode 2025–2028, setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya dengan berat hati mengundur kegiatan Festival Lestari menjadi tanggal 4 sampai 7 November 2026,” jelas Boby.
Menurutnya, kondisi kabut asap menjadi salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan karena Festival Lestari akan menghadirkan peserta, mitra dan tamu undangan dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri.
Kondisi cuaca dan kualitas udara dikhawatirkan mengganggu kelancaran perjalanan, terutama penerbangan menuju Kalimantan Barat.
“Pembatalan ini juga sebenarnya suasananya tidak enak di LTKL karena mitra dari luar negeri yang akan datang ke Sintang itu banyak yang sudah memesan tiket. Tetapi setelah dikonfirmasi, kemungkinan besar pesawat-pesawat itu akan sulit landing di Pontianak, apalagi di Sintang. Itu yang menjadi pertimbangan, sehingga para mitra akhirnya juga me-reschedule jadwal mereka,” terang Boby.
Ia mengatakan, kehadiran mitra internasional merupakan bagian penting dari Festival Lestari. Karena itu, penyelenggara memilih tidak memaksakan pelaksanaan festival di tengah kondisi yang berpotensi mengganggu keselamatan dan kenyamanan peserta.
“Sebenarnya yang datang ke Sintang itu kemungkinan besar banyak dari mitra luar negeri,” bebernya.
Boby menegaskan, perubahan jadwal tersebut bukan berarti Festival Lestari 2026 dibatalkan.
Penundaan dilakukan agar festival dapat digelar dalam kondisi yang lebih mendukung sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan secara optimal.
Dengan perubahan jadwal menjadi 4–7 November 2026, pemerintah daerah bersama LTKL memiliki waktu tambahan untuk mematangkan berbagai persiapan, mulai dari kesiapan lokasi, agenda kegiatan, keterlibatan masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, sektor pariwisata hingga koordinasi dengan berbagai pihak.
Festival Lestari diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah sekaligus memperkuat kolaborasi antardaerah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.
Bagi Kabupaten Sintang, festival tersebut juga menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya, pariwisata dan produk ekonomi kreatif kepada peserta dari berbagai daerah hingga mancanegara.
“Jadi kita bukan membatalkan, tetapi mengundur. Kita berharap pada November nanti kondisi sudah lebih baik sehingga tamu-tamu dari luar daerah dan luar negeri dapat datang dan seluruh rangkaian Festival Lestari bisa terlaksana dengan maksimal,” pungkas Boby.[SK]
.jpeg)