Streaming Radio Lawang Kuari

Asap Kembali Mengepul, Karhutla Melawi Capai 857,85 Hektare hingga 9 Agustus

Editor: Admin author photo

 

Tim BPBD bersiap menuju lokasi karhutla. SUARALAWANGKUARI/SK
Melawi (Suara Lawang Kuari) – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kabupaten Melawi. Di tengah kondisi cuaca panas dan lahan yang semakin mengering, titik api kembali muncul di sejumlah wilayah dan memaksa petugas penanggulangan bencana bekerja ekstra untuk mencegah kebakaran meluas.

Pada Selasa (11/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi kembali mengerahkan personel setelah menerima laporan munculnya titik api di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing.

Titik api tersebut sebelumnya sempat berhasil dipadamkan. Namun, kondisi lahan yang masih kering membuat api kembali muncul sehingga petugas harus turun ke lokasi untuk memastikan api benar-benar terkendali.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid Darlog) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan pihaknya langsung merespons informasi tersebut dengan mengarahkan tim menuju lokasi.

“Hari ini kita mendapatkan informasi terkait adanya titik api di wilayah Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, yang sebelumnya sudah padam. Tim segera kita arahkan ke lapangan untuk melakukan penanganan,” ujar Rahmad saat dikonfirmasi SuaraKalbar.co.id.

Selain Desa Nusa Kenyikap, laporan karhutla juga diterima dari Desa Laman Bukit, Kecamatan Belimbing. Kondisi ini membuat petugas harus membagi kekuatan untuk memastikan api di sejumlah titik tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Di lapangan, penanganan karhutla bukan perkara mudah. Petugas harus menghadapi akses menuju lokasi yang jauh dan sulit, keterbatasan sumber air hingga sarana dan prasarana pemadaman yang belum memadai.

“Kendala kita dalam penanganan karhutla saat ini, akses lokasi karhutla yang jauh dan sulit, kemudian sumber air, serta sapras yang kurang,” ungkap Rahmad.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar. Petugas tidak hanya berhadapan dengan kobaran api, tetapi juga bara yang berpotensi kembali menyala ketika lahan masih dalam kondisi kering.

Karena itu, kecepatan informasi dari masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian karhutla. Semakin cepat titik api dilaporkan, semakin besar peluang petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

BPBD Melawi terus mengingatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Setiap laporan mengenai titik api harus segera ditindaklanjuti, mengingat kondisi lahan yang kering dapat membuat api dengan cepat menjalar ke area lainnya.

Petugas di lapangan harus bergerak dengan peralatan yang tersedia, menembus medan sulit, mencari sumber air terdekat serta melakukan pembasahan untuk memastikan bara api tidak kembali menyala.

Ancaman karhutla di Melawi tahun ini tergambar dari data rekapitulasi BPBD Kabupaten Melawi. Sejak Januari hingga 9 Agustus 2026, total luasan lahan yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 857,85 hektare.

Data tersebut menunjukkan peningkatan signifikan memasuki periode Juli dan Agustus. Salah satu kejadian terbesar tercatat pada 31 Juli 2026 di wilayah Kecamatan Ella Hilir dengan luasan kebakaran sekitar 150 hektare.

Selanjutnya, pada 4 Agustus 2026, kebakaran di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, tercatat mencapai sekitar 135 hektare.

Sehari kemudian, 5 Agustus, kebakaran kembali terjadi di Desa Tebing Karangan, Kecamatan Nanga Pinoh, dengan luasan sekitar 55 hektare. Pada hari yang sama, kebakaran di Desa Batu Ampar, Kecamatan Belimbing, tercatat sekitar 7 hektare.

Kebakaran juga terjadi di Bukit Condong pada 6 Agustus dengan luasan sekitar 10 hektare. Sehari berikutnya, 7 Agustus, kebakaran di Desa Nanga Kayan tercatat mencapai sekitar 150 hektare.

Pada 8 Agustus, BPBD kembali mencatat sejumlah lokasi terdampak karhutla, di antaranya Desa Pelinggang di Kecamatan Pinoh Selatan, Desa Kebebu di Kecamatan Nanga Pinoh, Desa Beloyang di Kecamatan Belimbing Hulu, Desa Sungai Raya di Kecamatan Pinoh Utara, Desa Sidomulyo di Kecamatan Nanga Pinoh, serta Desa Bayur Raya di Kecamatan Pinoh Selatan.

Rahmad menegaskan, data tersebut merupakan kejadian yang telah dilaporkan kepada BPBD. Ia menduga masih terdapat kebakaran lain yang belum masuk dalam pencatatan karena tidak seluruh kejadian dilaporkan.

“Ini data yang laporan masuk saja. Yang tidak melapor juga banyak,” ungkap Rahmad.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat puncak musim kemarau masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla di sejumlah wilayah Melawi.

BPBD Kabupaten Melawi pun terus mengandalkan respons cepat di lapangan dan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menekan dampak kebakaran. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Di tengah keterbatasan akses, sumber air dan peralatan, perjuangan petugas di lapangan menjadi garda terdepan untuk mencegah kepulan asap berubah menjadi bencana yang lebih luas.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play