Streaming Radio Lawang Kuari

Petrus Lontoh dan Harapan Jembatan Permanen Sungai Bakah, Kisah Kepedulian Warga yang Tak Pernah Padam

Editor: Admin author photo

 

Di Tengah Hujan, Petrus Lontoh Kembali Menjaga Harapan Warga Sungai Bakah. SUARALAWANGKUARI/SK
Melawi (Suara LawangKuari) – Di tengah guyuran hujan pagi di Desa Sungai Bakah, Kecamatan Pinoh Selatan, Kabupaten Melawi, sosok Petrus Lontoh kembali berdiri di atas Jembatan Apung Sungai Bakah. Pakaian sederhana yang dikenakannya basah oleh rintik hujan, namun langkahnya tidak surut.

Bukan sebagai pejabat maupun kontraktor, Petrus hadir sebagai warga biasa yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap akses penting yang selama ini menjadi penghubung kehidupan masyarakat.

Senin pagi (6/7/2026), Petrus bersama puluhan warga kembali melakukan perbaikan darurat terhadap Jembatan Apung Sungai Bakah yang beberapa hari sebelumnya mengalami kerusakan hingga menyebabkan sebuah kendaraan terperosok.

Dengan peralatan sederhana berupa papan kayu, linggis, dan material yang dibelinya menggunakan dana pribadi, Petrus ikut memperbaiki bagian jembatan yang lapuk. Ia bersama warga mengangkat papan yang rusak, memperkuat rangka, serta memastikan jembatan kembali aman untuk dilalui.

Semangat gotong royong terlihat jelas. Sejumlah warga bahkan turun langsung ke sungai untuk memasang penyangga dan memperbaiki bagian bawah jembatan, meski hujan terus mengguyur lokasi.

Bagi Petrus, Jembatan Apung Sungai Bakah bukan sekadar bangunan penghubung dari kayu dan besi. Jembatan tersebut merupakan urat nadi kehidupan masyarakat.

Setiap hari, anak-anak melintasi jembatan itu menuju sekolah, petani membawa hasil panen, pedagang mengangkut barang dagangan, serta warga dari Desa Sungai Bakah, Desa Nyanggai, Desa Bina Jaya hingga Desa Kahiya bergantung pada akses tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Namun Petrus menyadari, perbaikan secara swadaya yang kembali dilakukan bukanlah solusi jangka panjang. Usia jembatan yang semakin tua membuat kebutuhan akan pembangunan jembatan permanen menjadi semakin mendesak.

“Saya berharap Jembatan Apung Desa Sungai Bakah bisa dibangun permanen oleh pemerintah, karena ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat di sini,” ujar Petrus Lontoh saat melakukan perbaikan.

Kepedulian Petrus mendapat apresiasi dari tokoh pemuda Desa Sungai Bakah, Mario Saparus. Menurutnya, Petrus merupakan sosok yang telah membuktikan kecintaan terhadap kampung halaman melalui tindakan nyata.

Mario mengungkapkan, sejak awal pembangunan Jembatan Apung Sungai Bakah, Petrus menjadi salah satu penggagas utama yang rela mengeluarkan dana pribadi agar masyarakat memiliki akses penghubung yang lebih baik.

Bahkan ketika jembatan kembali mengalami kerusakan, Petrus menjadi orang pertama yang turun tangan melakukan perbaikan tanpa menunggu bantuan pihak lain.

“Kami sangat mengapresiasi kepedulian Pak Petrus Lontoh. Dari awal beliau menjadi penggagas pembangunan jembatan ini dengan menggunakan uang pribadinya,” ujar Mario.

“Ketika jembatan mengalami kerusakan parah, beliau juga tetap menjadi tulang punggung utama dalam perbaikannya dan kembali menggunakan dana pribadi demi keselamatan masyarakat. Tidak semua orang memiliki kepedulian sebesar itu,” tambahnya.

Menurut Mario, tindakan Petrus menjadi bukti bahwa rasa memiliki terhadap kampung halaman masih kuat di tengah masyarakat.

Di saat banyak pihak masih menunggu realisasi pembangunan jembatan permanen, Petrus memilih bergerak agar aktivitas warga tidak terhenti.

“Beliau tidak pernah mencari pujian. Yang beliau pikirkan hanya bagaimana masyarakat tetap bisa melintas dengan aman. Semangat beliau itulah yang akhirnya menggerakkan warga untuk ikut bergotong royong memperbaiki jembatan ini,” katanya.

Meski mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat, Mario menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan pembangunan jembatan permanen terus tertunda.

Menurutnya, swadaya masyarakat merupakan bentuk kepedulian dalam kondisi darurat, bukan solusi yang dapat menggantikan tanggung jawab pembangunan infrastruktur secara berkelanjutan.

“Pemerintah perlu hadir memberikan kepastian kepada masyarakat. Jembatan yang menjadi urat nadi perekonomian ribuan warga ini tidak seharusnya terus bergantung pada pengorbanan pribadi seseorang,” tegasnya.

Suasana pagi itu menjadi gambaran kuat tentang keteguhan masyarakat Sungai Bakah. Di bawah hujan, suara palu yang menghantam kayu, langkah kaki warga di atas jembatan, dan semangat kebersamaan menjadi simbol bahwa harapan masih terus dijaga.

Namun di balik semangat gotong royong tersebut, tersimpan harapan besar agar suatu saat Jembatan Apung Sungai Bakah dapat berubah menjadi jembatan permanen yang aman, kokoh, dan menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah bagi masyarakat di wilayah pedalaman Melawi.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play