![]() |
Warga yang bermukim di kawasan Seberang Masjid Jami (Madya) itu mulai mengenal dunia penyeberangan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat kelas IV SD, ia telah membantu orang tuanya mengoperasikan perahu yang menjadi sarana utama masyarakat untuk menyeberangi sungai.
Pengalaman yang ditempa sejak kecil menjadi bekal berharga hingga akhirnya Asang memberanikan diri mengelola usaha penyeberangan secara mandiri pada 2008, ketika masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Saya mulai membantu orang tua sejak kecil. Setelah merasa cukup pengalaman, saya mulai menjalankan usaha sendiri pada tahun 2008,” ujar Asang, Sabtu (4/7/2026).
Dalam memberikan pelayanan, Asang mengoperasikan sebuah perahu bermesin yang dilengkapi tempat duduk bagi penumpang serta pelampung keselamatan. Namun, ia mengakui jumlah pelampung yang tersedia masih belum mencukupi untuk seluruh penumpang dalam satu kali perjalanan.
Untuk memulai usahanya, Asang menginvestasikan modal sekitar Rp40 juta guna membeli satu unit perahu beserta mesin bekas. Kini, nilai investasi tersebut telah meningkat menjadi sekitar Rp70 juta, seiring naiknya harga mesin, suku cadang, dan biaya operasional.
Perahu yang dikelolanya mampu mengangkut sekitar tujuh penumpang dalam sekali perjalanan dan beroperasi 24 jam setiap hari demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin menyeberang kapan saja.
Tarif yang dikenakan pun relatif terjangkau. Untuk satu unit sepeda motor dikenakan biaya Rp30 ribu, sedangkan sepeda motor beserta satu orang penumpang dipatok Rp35 ribu.
Meski terus beroperasi tanpa mengenal waktu, pendapatan yang diperoleh Asang tidak selalu stabil. Pada hari-hari biasa, terutama saat aktivitas masyarakat sedang sepi, ia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp200 ribu atau lebih per hari.
Namun ketika momentum Hari Raya Idulfitri tiba, aktivitas penyeberangan meningkat tajam. Pada masa tersebut, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp800 ribu sampai Rp1 juta per hari, seiring tingginya mobilitas warga yang mudik maupun bersilaturahmi.
Di balik usaha yang telah dijalani selama bertahun-tahun, Asang juga menghadapi berbagai tantangan. Musim kemarau menjadi salah satu kendala terbesar karena debit air sungai yang menurun menyebabkan lanting atau dermaga terapung sering kandas sehingga menghambat aktivitas penyeberangan.
Selain itu, sampah dan batang kayu yang hanyut di sungai juga kerap mengancam keselamatan operasional. Material tersebut dapat merusak badan perahu maupun menyebabkan mesin dan jet mengalami kerusakan.
“Kalau musim kemarau, lanting sering kandas. Sampah dan kayu yang hanyut juga sering mengganggu karena bisa membuat mesin mogok. Tapi kalau soal naik turun debit air sungai, tidak terlalu berpengaruh terhadap operasional kami,” jelasnya.
Meski demikian, Asang tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Ia menilai keberadaan jasa penyeberangan sungai hingga kini masih memiliki peran strategis sebagai akses transportasi utama bagi warga yang tinggal di kawasan yang dipisahkan oleh aliran sungai.
Ke depan, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap fasilitas penyeberangan, terutama dengan memperbaiki steher atau dermaga serta membangun atap pelindung agar penumpang dan pengendara merasa lebih nyaman saat menunggu giliran menyeberang.
“Harapan saya, pemerintah bisa memperbaiki dermaga dan membuatkan atap agar penumpang maupun pengendara tidak kepanasan atau kehujanan saat menunggu giliran menyeberang. Penyeberangan ini masih sangat dibutuhkan masyarakat untuk beraktivitas setiap hari,” pungkasnya.
Bagi masyarakat Sekadau, jasa penyeberangan seperti yang dijalankan Asang bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga menjadi penghubung aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan sosial yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.[SK]
