![]() |
| Wabup Sanggau Susana Herpena Tinjau Posko Satgas Karhutla, Soroti Kesiapan Alat dan Dampak Lintas Negara. SUARALAWANGGKUARI/SK |
Peninjauan tersebut dilakukan sebagai langkah memastikan kesiapan penanganan karhutla di tengah musim kemarau sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi kebakaran di wilayah Kabupaten Sanggau.
Dalam kunjungannya, Susana menekankan pentingnya kesiapan sarana dan prasarana, termasuk ketersediaan alat pemadam, kendaraan operasional serta dukungan dari berbagai pihak untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Menurutnya, keterbatasan anggaran pemerintah daerah membutuhkan dukungan dunia usaha, termasuk para investor yang beroperasi di wilayah Sanggau.
“Memang kita berupaya tadi melalui beberapa para investor juga diwajibkan memiliki APAR ya supaya ini juga membantu masyarakat yang ada di desa dan juga kecamatan dengan keterbatasan anggaran,” pintanya.
Susana juga meminta agar peralatan yang mengalami kerusakan segera diperbaiki sehingga tidak menghambat operasi di lapangan. Sementara jika terdapat kekurangan kendaraan operasional, Pemkab Sanggau akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat melalui instansi terkait.
“Kalau memang kendaraan ini diperlukan artinya segera perbaiki, kesiapan juga kita siapkan, memang ini menjadi hal yang darurat dan perlu kita siapkan. Kalau butuh mobilnya tadi perlu perbaikan kita perbaiki, kalau memang kita butuh mungkin kendaraan kekurangan nanti kita akan upayakan berkoordinasi untuk ke provinsi maupun juga pusat,” katanya.
Bagi Susana, kesiapsiagaan menjadi semakin penting karena Kabupaten Sanggau merupakan salah satu wilayah perbatasan Indonesia dengan Sarawak, Malaysia.
Ia mengingatkan bahwa persoalan kabut asap akibat karhutla tidak hanya berdampak terhadap masyarakat di dalam negeri, tetapi berpotensi menimbulkan perhatian dari negara tetangga apabila asap melintasi wilayah perbatasan.
“Mengingat Kabupaten Sanggau sekali lagi adalah kabupaten yang langsung berbatasan dengan Sarawak, Malaysia, dan ada Brunei juga dengan Singapura. Tugas kita menjaga supaya ini tidak menjadi gejolak secara ASEAN dan tentunya internasional. Ini bentuk tanggung jawab kita,” ujarnya.
Susana juga menanggapi informasi mengenai keluhan terkait dampak asap yang muncul di media. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara komprehensif dan disikapi melalui komunikasi serta edukasi, termasuk dengan pihak di negara tetangga.
“Kalau kita lihat di media dan juga beberapa informasi ya mereka juga udah mulai protes ya Pak ya. Karena seolah dampaknya dari kita. Tapi ya upaya ini kita lihat kaji lihat ternyata dengan budaya dan juga dimana kita masih satu rumpun, disana juga pun ada berladangnya juga,” ucapnya.
Di tingkat masyarakat, Susana menilai edukasi kepada para peladang menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko karhutla.
Ia tidak ingin budaya berladang masyarakat hilang karena aktivitas tersebut juga memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan. Namun, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar perlu menjadi perhatian serius.
“Edukasi untuk ke depan kepada para peladang bagaimana sih berladang tidak dengan membakar lahan. Bentuk adat dan budaya tetap mereka jalankan tapi tidak dengan membakar. Karena asapnya yang jadi masalah,” jelasnya.
Menurut Susana, pemerintah daerah tetap mendukung masyarakat yang menjalankan aktivitas berladang secara bertanggung jawab. Para peladang bahkan dinilai turut berkontribusi terhadap program ketahanan pangan di Kabupaten Sanggau dan secara lebih luas bagi Indonesia.
“Kalau peladang tidak ada masalah, justru pemerintah daerah mendukung. Dimana seluruh masyarakat peladang juga membantu dalam program ketahanan pangan untuk Kabupaten Sanggau, Bangsa Indonesia,” ucapnya.
Peninjauan Posko Satgas Karhutla tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi Pemerintah Kabupaten Sanggau dalam menghadapi musim kemarau dan meningkatkan kesiapan menghadapi potensi karhutla.
Pemkab Sanggau mendorong seluruh unsur, mulai dari pemerintah, aparat, dunia usaha, masyarakat hingga relawan, untuk memperkuat sinergi dalam pencegahan dan penanganan karhutla.
Kesiapan sarana, respons cepat, edukasi masyarakat serta kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat mencegah kebakaran meluas sekaligus meminimalkan dampak kabut asap, khususnya di wilayah perbatasan negara.[SK]
